Dermatitis Perioral (DPO): Penyakit Kulit yang Sering Disangka Jerawat Biasa
Dermatitis Perioral (DPO) adalah kondisi kulit yang sering kali disalahpahami. Banyak orang mengira kemerahan dan bruntusan kecil di sekitar mulut hanyalah jerawat biasa atau reaksi tidak cocok skincare. Padahal, dalam banyak kasus, kondisi ini justru merupakan tanda kerusakan kulit yang lebih dalam dan membutuhkan pendekatan pemulihan yang tepat.
dr. Rizqi Aminia
1/8/20262 min read


Kesalahan memahami DPO sebagai jerawat biasa sering membuat kondisi kulit semakin memburuk. Alih-alih membaik, kulit justru menjadi lebih sensitif, meradang, dan sulit pulih. Karena itu, penting untuk memahami apa itu Dermatitis Perioral, bagaimana cirinya, dan mengapa penanganannya tidak bisa disamakan dengan jerawat biasa.
Apa Itu Dermatitis Perioral?
Dermatitis Perioral adalah peradangan kulit kronis yang umumnya muncul di area sekitar mulut, lipatan hidung, dan terkadang menyebar hingga ke area sekitar mata. Kondisi ini ditandai dengan kemerahan, bruntusan kecil, rasa perih, dan sensasi panas pada kulit.
DPO bukan sekadar masalah di permukaan kulit. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan gangguan skin barrier dan ketidakseimbangan lingkungan alami kulit, terutama setelah penggunaan jangka panjang krim bersteroid atau krim racikan tanpa pengawasan medis.
Mengapa DPO Sering Disangka Jerawat?
Secara visual, DPO memang bisa tampak mirip jerawat. Bruntusan kecil yang meradang sering membuat seseorang mengira bahwa kulitnya sedang mengalami breakout biasa. Akibatnya, banyak orang justru menggunakan produk jerawat yang bersifat keras dan agresif.
Sayangnya, pendekatan ini sering kali menjadi bumerang. Produk jerawat yang bertujuan mengeringkan justru dapat memperparah kerusakan skin barrier dan microbiome. Kulit menjadi semakin iritasi, peradangan meningkat, dan DPO makin sulit dikendalikan.
Ciri Khas Dermatitis Perioral yang Perlu Dikenali
Ada beberapa tanda yang membedakan DPO dari jerawat biasa. DPO umumnya muncul di area tertentu, terutama sekitar mulut, dengan pola yang relatif simetris. Area tepat di garis bibir sering kali justru terlihat lebih “kosong” dibanding area sekitarnya.
Selain itu, DPO sering disertai rasa perih, panas, atau gatal ringan, bukan nyeri seperti jerawat meradang. Kulit juga menjadi sangat sensitif, mudah merah, dan bereaksi berlebihan terhadap produk yang sebelumnya terasa aman.
Peran Krim Steroid dalam Munculnya DPO
Salah satu pemicu utama Dermatitis Perioral adalah penggunaan krim bersteroid, termasuk krim etiket biru atau krim racikan yang dipakai dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter. Steroid memang dapat memberikan efek instan: kulit tampak lebih tenang, cerah, dan bebas jerawat.
Namun, di balik efek cepat tersebut, steroid secara perlahan melemahkan skin barrier. Ketika pemakaian dihentikan, kulit mengalami reaksi rebound berupa peradangan hebat, kemerahan, dan munculnya DPO. Inilah yang sering disebut sebagai fase steroid withdrawal.
Kenapa DPO Tidak Bisa Diatasi Seperti Jerawat Biasa?
Jerawat biasa umumnya berkaitan dengan produksi minyak berlebih dan sumbatan pori. Sementara itu, DPO lebih erat kaitannya dengan kerusakan fungsi pelindung kulit dan inflamasi kronis.
Jika DPO ditangani dengan pendekatan yang terlalu agresif, seperti bahan aktif keras atau eksfoliasi berlebihan, kulit justru semakin “berontak”. Alih-alih sembuh, peradangan bisa bertahan lebih lama dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Pentingnya Pendekatan Pemulihan Kulit
Dermatitis Perioral bukan kondisi yang bisa diselesaikan secara instan. Kulit membutuhkan waktu untuk memulihkan keseimbangan alaminya. Pendekatan yang berfokus pada pemulihan skin barrier, ketenangan kulit, dan konsistensi jangka panjang menjadi kunci utama.
Di RA Clinic+, DPO dipandang bukan sebagai kegagalan kulit, melainkan sebagai sinyal bahwa kulit sedang membutuhkan proses pemulihan yang lebih manusiawi dan berbasis sains. Filosofi “Sehat Dulu, Baru Glowing” menjadi landasan utama dalam mendampingi pasien melalui fase ini.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Jika kemerahan dan bruntusan di sekitar mulut tidak membaik, terasa semakin sensitif, atau justru memburuk meski sudah berganti-ganti produk, itu bisa menjadi tanda bahwa kondisi tersebut bukan jerawat biasa.
Memahami riwayat kulit, termasuk penggunaan krim sebelumnya, menjadi langkah penting untuk menentukan arah pemulihan yang tepat. Dengan pendampingan yang benar, kulit memiliki kemampuan alami untuk pulih secara bertahap dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Dermatitis Perioral adalah kondisi kulit yang sering disalahartikan sebagai jerawat biasa, padahal membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda. Mengenali ciri, penyebab, dan mekanismenya adalah langkah awal untuk menghentikan siklus coba-coba yang melelahkan.
Kulit yang sedang mengalami DPO bukan kulit yang “rusak selamanya”. Dengan pemahaman yang tepat, kesabaran, dan pendampingan yang konsisten, proses pemulihan tetap sangat mungkin untuk terjadi.
Contact:
email: raclinic.id@gmail.com
Phone: +6281280440980
© 2025. All rights reserved.
Fokus membantu melawan jerawat dan Dermatitis Perioral (DPO), terutama akibat penyalahgunaan pemakaian obat keras bersteroid atau krim etiket biru tanpa pengawasan dokter atau kaedah ilmu pengetahuan dan etika penggunaan.
Store Hours: Monday - Sunday 09:00 - 19:00 WIB
